Rabu, 29 Maret 2017

Profil Kota Yogyakarta

Yogyakarta

ADMINISTRASI
Profil Wilayah


Ngayogyakarta Hadiningrat yang didirikan oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) pada tahun 1755 hasil dari Perjanjian Giyanti, di kemudian hari tumbuh menjadi kota yang kaya akan budaya dan kesenian Jawa.


Yang menjadi titik sentral dari perkembangan kesenian dan budaya adalah kesultanan. Beragam kesenian Jawa klasik, seperti seni tari, tembang, geguritan, gamelan, seni lukis, sastra serta ukir-ukiran, berkembang dari dalam keraton dan kemudian menjadi kesenian rakyat. Kemudian, kesatuan masyarakat dengan nilai-nilai kesenian seakan telah mendarah daging sehingga Yogyakarta dengan 395.604 jiwa penduduknya seperti tidak pernah kehabisan seniman-seniman handal.

Selain pesona budaya, khasanah arsitektur kuno juga memiliki daya magis tersendiri bagi para wisatawan. Sebutlah Istana Air Tamansari, Keraton Yogyakarta, Keraton Pakualaman, Candi Prambanan, dan berbagai museum. Karena dinilai sarat akan kebudayaan, maka Yogyakarta menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) utama di Indonesia (meski masih dibawah Pulau Bali). Salah satu kekayaan lain dari Yogyakarta adalah sekolah. Sejak bedirinya UGM tahun 1949, kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. Termasuk UGM, masih ada 47 perguruan tinggi lain, mulai dari tingkat akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi, maupun universitas dengan jumlah mahasiwa mencapai 86.000 orang. Subsektor pendidikan ini merupakan salah satu penyumbang dari sektor jasa-jasa yang pada tahun 2000 lalu bernilai Rp 703 milyar. Keberadaan PT dan mahasiswa memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai usaha yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa, seperti pemondokan, kedai makan, fotokopi, hingga usaha hiburan seperti rental VCD, games, persewaan komik, boutique, sampai salon-salon kecantikan.

Fungsi Utama Kota dan Pendukungnya

Menurut RDTR Kota Yogyakarta, Kota Yogyakarta merupakan ibukota dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga Kota Yogyakarta diarahkan menjadi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yangberada pada kawasan strategis dan kawasan pertumbuhan ekonomi, sehingga kota ini perlu berfungsi sebagai pusat kegiatan produksi (kegiatan industri, agroindustri, pariwisata dan lain-lain), pusat perhubungan guna mendukung usaha pemasaran, yang diarahkan pada pengembangan kota skala pelayanan nasional/internasional sehingga dapat mendukung fungsi strategis sebagai daerah kota.

Citra yang melekat kepada Kota Yogyakarta mencerminkan aspek pendidikan, perjuangan, pariwisata, dan pelayanan jasa yang berbasis budaya sehingga setiap arahan yang dikembangkan oleh pemerintah berusaha membuat citra yang melekat pada Kota Yogyakarta dapat dipertahankan. Kota Yogyakarta berfungsi sebagai sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan kota perjuangan sehingga kota ini perlu ditingkatkan dalam aspek penyediaan sarana prasarana yang bersifat sustainable dan berjangka panjang untuk mendukung fungsi kota tersebut serta perlu ditingkatkan dalam segi kebersihan, kenyamanan, ketertiban.


Orientasi Wilayah 


Secara geografis, Kota Yogyakarta terletak antara 110º24’19” - 110º28’53” Bujur Timur dan 07º15’24” - 07º49’26” Lintang Selatan. Wilayah kota Yogyakarta dibatasi oleh daerah-daerah seperti:
  • Batas wilayah utara    : Kab.Sleman 
  • Batas wilayah selatan : Kab.Bantul 
  • Batas wilayah barat    : Kab.Bantul dan kab.Sleman 
  • Batas wilayah timur   : Kab.Bantul dan kab.Sleman
Kota Yogyakarta memiliki kemiringan lahan yang relatif datar antara 0%-3% ke arah selatan serta mengalir 3 buah sungai besar : Sungai Winongo di bagian barat, Sungai Code dibagian tengah dan Sungai Gajahwong dibagian timur. 

Wilayah Kota Yogayakarta terbagi dalam lima bagian kota dengan pembagian sebagai berikut:
Wilayah I     : Ketinggian daerah ini ± 91 m - ± 117 m diatas permukaan laut rata-rata.
Yang termasuk dalam wilayah ini adalah :
  • Sebagian Kecamatan Jetis
  • Kecamatan Gedongtengen
  • Kecamatan Ngampilan
  • Kecamatan Keraton
  • Kecamatan Gondomanan
Wilayah II    : Ketinggian daerah ini ± 97 m - ± 114 m diatas permukaan laut rata-rata.
Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah:
  • Kecamatan Tegalrejo
  • Sebagian Kecamatan Wirobrajan
Wilayah III   : Ketinggian daerah ini ± 102 m - ± 130 m diatas permukaan laut rata- rata. Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah:
  • Kecamatan Gondokusuman
  • Kecamatan Danurejan
  • Kecamatan Pakualaman
  • Sebagian kecil Kecamatan Umbulharjo
Wilayah IV   : Ketinggian daerah ini ±  75 m - ± 102 m diatas permukaan laut rata-rata.
Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah:
  • Sebagian Kecamatan Mergangsan
  • Kecamatan Umbulharjo
  • Kecamatan Kotagedhe
  • Kecamatan Mergangsan
Wilayah V    : Ketinggian daerah ini ± 83 m - ± 102 m diatas permukaan laut rata-rata.
Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah;
  • Kecamatan Wirobrajan
  • Kecamatan Mantrijeron
  • Sebagian Kecamatan Gondomanan
  • Sebagian Kecamatan Mergangsang
Wilayah Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan, 45 kelurahan, 617 RW, dan 2532 RT dengan wilayah seluas 32,5 Km² atau kurang lebih 1,02% dari luas wilayah Propinsi D.I Yogyakarta. Kota Yogyakarta termasuk cekungan bagian bawah dari lereng Gunung Merapi, sebagian besar tanahnya berupa tanah regosol atau vulkanis muda. Sedangkan di Kecamatan Umbulharjo dan sekitarnya jenis tanahnya adalah lempung kepasiran (sandy clay ) dengan formasi geologi batuan sedimen andesit tua (old andesit)/kepasiran.
Tabel 1. Luas Perkecamatan Kota Yogyakarta
No.
Kecamatan
Luas (km2)
1
Mantrijeron
2,61
2
Kraton
1,40
3
Mergangsan
2,31
4
Umbulharjo
8,12
5
Kotagedhe
3,07
6
Gondokusuman
3,99
7
Danurejan
1,10
8
Pakualam
0,63
9
Gondomanan
1,12
10
Ngampilan
0,82
11
Wirobrajan
1,76
12
Gedongtengen
0,96
13
Jetis
1,70
14
Tegalrejo
2,91
Jumlah
32,5
Sumber: Yogyakarta dalam Angka 2016

Karakteristik jenis tanah regosol pada umumnya profil tanah belum berkembang, tekstur tanah kepasiran, geluh, struktur tanah remah gumpal lemah, infiltrasi sedang sampai tinggi dengan solum tebal. Jenis tanah ini mudah meresapkan air permukaan, sehingga dalam  kondisi  tertentu mampu  berfungsi  sebagai  media  perkolasi  yang  baik  bagi imbuhan air tanah.

KEPENDUDUKAN
Jumlah Penduduk


Jumlah penduduk di Kota Yogyakarta dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dari faktor kelahiran, datang, kamatian dan pergi. Berdasarkan data registrasi penduduk kota Yogyakarta selama 2015 jumlah penduduknya adalah:

Tabel 2. Jumlah Penduduk Perkecamatan Kota Yogyakarta Tahun 2015
No.
Kecamatan
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
1
Mantrijeron
15.947
16.844
32.791
2
Kraton
8.374
9.173
17.547
3
Mergangsan
14.872
15.403
30.275
4
Umbulharjo
41.914
44.666
85.580
5
Kotagedhe
17.592
17.693
35.285
6
Gondokusuman
22.685
24.155
46.840
7
Danurejan
9.306
9.599
18.905
8
Pakualam
4.532
4.804
9.335
9
Gondomanan
6.325
7.182
13.507
10
Ngampilan
7.846
8.983
16.507
11
Wirobrajan
13.001
12.661
25.662
12
Gedongtengen
8.594
9.448
18.042
13
Jetis
11.649
12.185
23.834
14
Tegalrejo
18.445
18.826
37.271
Jumlah
201.082
211.622
412.704
Sumber: Yogyakarta dalam Angka 2016

EKONOMI
Kondisi Perekonomian Daerah

Pariwisata bagi Kota Yogyakarta sudah merupakn sebuah industri. Sebagi sebuah industri, sektor ini banyak melibatkan sektor ekonomi lainnya, seperti sektor perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa. Kontribusi sektor-sektor itu dalam PDRB mencapai 78,6% dari seluruh kegiatan perekonomian masyarakat Yogyakarta. Kota Yogyakarta merupakan salah satu dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN), oleh karena itu di Kota ini kegiatan perekonomiannya berasal dari berbagai macam sektor yaitu:
  • Perdagangan dan UKM
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Yogyakarta didominasi oleh kegiatan industri. Industri yang paling dominan adalah industri kayu dimana industri ini mengolah kayu menjadi suatu produk, jumlah industri kayu di Kota Yogyakarta adalah sekitar 61 industri. Kegiatan industri lain yang berkembang di Kota Yogyakarta ini juga berupa kegiatan industri barang galian bukan logam, industri pakaian jadi, dan industri makanan. Kota Yogyakarta sendiri sudah dikenal melalui brandingproduk pakaian dan makanan khas sehingga menjadi daya tarik bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.
  • Pariwisata
Kota Wisata Yogyakarta

Kota Yogyakarta merupakan salah satu destinasi favorit bagi para wisatawa, hal ini dibuktikan dengan tercatatnya kunjungan wisatawan sebanyak 1.456.980 orang, dengan rincian 152.843 dari mancanegara, dan 1.304.137 orang dari nusantara dimana keberadaan wisatawan ini ditunjang dengan adanya sarana prasarana berupa tempat penginapan yang jumlahnya tercatat sebanyak 54 hotel berbintang dan 1.100 hotel tidak berbintang.

SOSIAL BUDAYA

Kota Yogyakarta sangat identik dengan suasana tradisional, setiap orang yang mengunjungi Yogyakarta pasti akrab dengan keraton, candi, batik yang merupakan corak khas dari bangsa Indonesia. Budaya yang terlihat secara fisik berupa bangunan dan kawasan budaya, dimana pada sampai saat ini Kota Yogyakarta memiliki kurang lebih 515 bangunan cagar budaya yang tesebar di 13 kawasan budaaya. Selain budaya secara fisik, Yogyakarta juga memiliki budaya khas secara non fisik berupa sistem norma dan perilaku sosial yang umumnya dikenal dengan nama adat “Kejawen”. Setiap memperingati hari – hari besar tertentu di kota ini selalu terdapat upacara – upacara yang dilaksanakan oleh masyarakatnya contohnya adalah upacara Sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

Upacara Sekaten
Menurut hasil sensus penduduk oleh BPS, pada tahun 2015 Kota Yogyakarta memiliki penduduk beragama Islam sebesar 337.733 jiwa dari total penduduk 408.823 jiwa itu berarti bahwa sekitar 83% penduduk di kota ini mayoritas beragama Islam, kemudian 17% penduduk lainnya merupakan penduduk yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu. Mayoritas penduduk yang tinggal di kota ini mayoritas merupakan penduduk suku Jawa yaitu sekitar 96% dari total penduduk yang tinggal di kota ini.


SARANA PRASARANA
Sarana Pendidikan

Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, hal ini disebabkan karena kota ini memiliki sarana pendidikan yang tergolong banyak serta memiliki kualitas pendidikan yang baik, tercatat di Kota ini terdapat 86.000 kaum pelajar (terutama mahasiswa). Beberapa sarana pendidikan yang cukup dikenal di Kota Yogyakarta yaitu Universitas Gajah Mada (UGM) yang terletak di Bulaksumur dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang terletak di Jalan Colombo. Saat ini Kota Yogyakarta memiliki 230 TK, 200 SD/MI, 66 SMP, 58 SMA, 34 SMK, 47 perguruan tinggi

Sarana Kesehatan

Sebagai ibu kota yang memiliki jumlah penduduk yang banyak, maka kota ini juga memiliki sarana kesehatan yang menunjang kebutuhan penduduknya. Tercatat di kota ini terdapat 27 rumah sakit, 14 puskesmas, 224 poliklinik, 61 apotek yang tersebar di seluruh wilayah Yogyakarta untuk menjangkau kebutuhan penduduknya.

Transportasi

Di Kota Yogyakarta memiliki pelayanan angkutan kereta api pemberangkatan serta kedatangan berpusat di Stasiun Kereta Api Tugu untuk kelas eksekutif-bisnis dan Stasiun Lempuyangan untuk melayani angkutan penumpang kelas ekonomi dan barang. Untuk angkutan sungai atau danau, terdapat penyeberangan Waduk Sermo yang terletak di Kabupaten Progo yang memiliki luas areal 1,57 km² dan mempunyai keliling ± 20 km. Di sektor transportasi laut dI DIY terdapat Tempat Pendaratan Kapal (TPK) yang berfungsi sebagai pendaratan kapal pendaratan pencari ikan, dan tempat wisata pantai dimana terdapat 19 titik TPK yang dilayani oleh ± 450 kapal nelayan. Di sektor transportasi udara, Bandara Adisutjipto yang menjadi bandara internasional sejak 2004 dimana bandara ini merupakan pintu masuk transportasi udara bagi Daerah Istimewa Yogyakarta baik penerbangan domestik maupun internasional

Sistem Jaringan Jalan

Sistem jaringan jalan yang terdapat di Kota Yogyakarta terdiri dari:
  • Jaringan jalan arteri primer wilayah kota meliputi sebagian dari ruas Jalan Lingkar
  • Selatan (ring road) di Giwangan
  • Jaringan jalan arteri sekunder adalah jalan yang melewati wilayah Kota Yogyakarta diantaranya yaitu Jalan Magelang, Jalan Kyai Mojo, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan RE Martadinata, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jalan Bugisan
  • Jaringan jalan kolektor sekunder yang menghubungkan antar kawasan di Kota, diantaranya meliputi ruas Jalan AM. Sangaji, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan DR. Sarjito, Jalan Terban, Jalan Kaliurang, Jalan C. Simanjuntak, Jalan Cik Ditiro, Jalan Prof. Dr. Herman Yohanes, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Jenderal Sudirman
  • Jaringan jalan lokal di Kota meliputi Jalan Dagen, Jalan Babaran, Jalan Sosrowijayan, Jalan Aipda KS Tubun, Jalan Pembela Tanah Air, Jalan Patangpuluhan, Jalan Sosrokusuman, Jalan Tilarso, Jalan Limaran, Jalan Namburan Kidul, Jalan Nagan, Jalan Sidomukt
  • Jaringan jalan lingkungan di Yogyakarta menghubungkan antarpersil dalam kawasan perkotaan

GAMBARAN POTENSI & MASALAH
Potensi Kota Yogyakarta

Yogyakarta memiliki jumlah penduduk di usia produktif sebesar 290.535 jiwa atau sebesar 71% penduduk Kota Yogyakarta didominasi oleh penduduk dengan usia produktif. Jumlah usia produktif ini tentu dapat bepotensi meningkatkan produktivitas di Kota Yogyakarta melalui bidang ketenagakerjaan, dimana penduduk usia produktif ini perlu diberikan pendidikan serta pelatihan yang tepat agar kedepannya usia produktif ini dapat memiliki daya kerja yang baik sehingga dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan Kota Yogyakarta secara positif. Yogyakarta memiliki kegiatan ekonomi kreatif berupa industri pakaian dan makanan yang cukup dikenal oleh para masyarakat dan wisatawan, oleh karena itu industri tersebut harus selalu dibranding oleh pemerintah agar menjadi ciri khas yang memiliki nilai jual sehingga akan berpengaruh pada peningkatan pendapatan kota. Kota Yogyakarta memiliki identitas kebudayaan yang cukup dominan seperti Candi Prambanan, Malioboro, Keraton dimana identitas ini menarik antusiasme para wisatawan untuk berkunjung ke Yogyakarta, kedatangan para wisatawan ini tentunya berimplikasi positif pada pendapatan kota Yogyakarta melalui retribusi serta pelayanan barang dan jasa

Potensi – potensi yang terdapat di Kota Yogyakarta memiliki keterkaitan yang apabila dapat dimanfaatkan secara baik maka akan berdampak positif bagi Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta yang menjadi bagian dari destinasi kota wisata di Indonesia tentunya berpotensi mendatangkan banyak wisatawan. Oleh karena itu pemerintah harus dapat mengembangkan momen tersebut melalui pelatihan terhadap penduduk usia produktf agar penduduk ini memiliki bekal untuk bekerja salah satunya dengan membuka usaha secara mandiri. Kegiatan ekonomi yang berkembang di Yogyakarta berupa industri pakaian dan makanan dimana penduduk usia produktif yang telah diberi pelatihan tadi tentu berpotensi memiliki inovasi agar produk berupa pakaian dan makanan ini memiliki nilai jual yang terus meningkat sehingga semakin diminati oleh pembeli baik pembeli lokal maupun pembeli mancanegara. Apabila Kota Yogyakarta dapat mengembangkan prduk-produk khasnya yang diminati masyarakat, maka hal ini akan berpengaruh secara positif terhadap kesejahteraan penduduknya melalui pendapatan yang diterima.

Permasalahan Kota Yogyakarta

Kota Yogyakarta merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Provinsi DIY, oleh karena itu Yogyakarta mengalami perkembangan melalui pembangunan pusat-pusat bisnis baru dari tahun ke tahun. Hal ini menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau di Kota Yogyakarta, apabila ruang terbuka berkurang maka akan membawa dampak negatif terkait pencemaran dan polusi udara yang terjadi di kota ini, Permasalahan lain yang sangat mencolok yang terjadi di Kota Yogyakarta ini adalah masalah transportasi, dimana masih sering ditemuinya kemacetan-kemacetan terutama di kawasan pusatnya. Kawasan pusat yang dijadikan sebagai pusat perkonomian secara tidak langsung memberi dampak bagi transportasi juga, banyak ditemukan kendaraan-kendaraan yang parkir secara on street karena terbatasnya lahan parkir yang ada. Contohnya di kawasan wisata Jalan Malioboro.

Letak geografis Kota Yogyakarta yang terletak antara Gunung Merapi dan Samudera Hindia berpotensi menimbulkan permasalahan terkait terjadinya bencana alam berupa gempa bumi vulkanik dan tektonik seperti yang terjadi ketika tahun 2006 dan 2010. Selain itu, Kota Yogyakarta juga terlewati oleh Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong yang apabila musim hujan berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor.

POTENSI YANG DAPAT DIKEMBANGKAN

Melalui potensi dan permasalahan yang ada, perlu adanya koordinasi yang baik antara pemerintah dengan masyarakat agar dapat melaksanakan setiap kebijakan dan program-program yang ada untuk meminimalisir permasalahan serta mengembangkan potensi sehingga Kota Yogyakarta dapat menjadi kota yang pintar, ramah lingkungan, dan berdaya guna dalam jangka waktu yang panjang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pariwisata di Kota Yogyakarta merupakan salah satu daya tarik sendiri baik untuk masyarakat domestik maupun internasional. Hal ini dapat menjadi peluang tersendiri bagi Kota Yogyakarta, yang dimana memiliki penduduk dengan usia produktif yang cukup besar. Peningkatan kualitas SDM yang akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk Kota Yogyakarta. Selain itu juga dengan adanya berbagai macam perguruan tinggi di Kota Yogyakarta akan memberikan masyarakat peluang dalam penyediaan jasa, baik berupa jasa print-printan sampai kost-kostan.

Tentunya sekali lagi diperlukan koordinasi yang baik antara pemerintah setempat dengan masyarakat agar dapat memanfaatkan segala peluang yang ada di Kota Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by EvoMan | Bloggerized by R-Boy - EvoLogic | R-Boy